Semarang, kpu-jatengprov.go.id — KPU Provinsi Jawa Tengah menyelenggarakan kegiatan Rapat Koordinasi Pusat Pendidikan Pemilih dengan mengundang 35 Kabupaten/Kota Se – Jawa Tengah, Kamis (16/4). Rakor ini mengambil tema “Riset dan Pemetaan Tingkat Partisipasi Masyarakat Dalam Pemilu”.

“KPU RI telah menerbitkan Renstra 2014-2019 yang fokus pada program dan kegiatan pengembangan kelembagaan, penyampaian informasi pemilu dan pendidikan pemilih. Khusus pendidikan pemilih, dalam program ini diwadahi kegiatan riset terhadap tingkat partisipasi masyarakat pada pemilu-pemilu yang lalu. Melalui riset ini diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan dalam merumuskan strategi peningkatan partisipasi masyarakat yang efektif pada pemilu berikutnya”, ujar Muhammad Hakim Junaidi, Anggota KPU Provinsi Jateng.

Sebagai dasar pijakan KPU Kabupaten/Kota dalam melaksanakan riset, KPU RI telah menerbitkan pedoman riset tentang partisipasi pemilih dalam pemilu melalui Surat Edaran KPU Nomor 155/KPU/IV/2015. Lewat Surat Edaran ini KPU telah menentukan 5 (lima) tema riset yang dapat dipilih oleh KPU Kabupaten/Kota, antara lain :

1. Kehadiran dan ketidakhadiran pemilih di TPS (voter turn out);

2. Perilaku memilih (voting behaviour);

3. Politik uang (money politics/vote buying);

4. Tingkat melek politik warga (political literacy); dan

5. Kesukarelaan warga dalam politik (political voluntarism).

Dalam kesempatan ini untuk memberikan bekal pengetahuan dasar terkait riset, KPU Provinsi Jawa Tengah menghadirkan narasumber yang cakap di bidang riset, Drs. Andreas Pandiangan, M.Si, dari lembaga pengembangan demokrasi dan kepemiluan UNIKA Soegijapranata Semarang.

“KPU Provinsi Jawa Tengah menghadirkan Drs. Andreas Pandiangan, M.Si sebagai narasumber untuk membedah riset pemilu secara lebih mendalam, khususnya menyangkut metodologi riset penelitian dan langkah-langkahnya”, lanjut Hakim.

“Langkah awal riset adalah dalam menentukan tema harus memperhatikan sumber daya yang dimiliki seperti penguasaan materi persoalan dan konsep, kemudahan sumber data, pengumpulan data, olah data, faktor pendukung, dan sebagainya. Yang terpenting adalah penguasaan konsep. Selanjutnya pilihan tema akan berkaitan erat dengan pemilihan metode riset”, papar Andreas.

Hasil riset akan dipublikasikan kepada masyarakat dalam bentuk buku hasil riset danpolicy brief, sebuah alternatif bentuk ringkasan laporan riset.

“Untuk membuat laporan riset menjadi lebih menarik dan mudah dibaca oleh masyarakat, saya menyarankan agar dibuat alternatif bentuk ringkasan laporan riset, contohnya seperti policy brief“, sambung Andreas. (nar/red)